"Kesel, tadi digangguin di kelas!" Sebuah kalimat
dengan tulisan miring ke kanan dan ke kiri mengawali catatan saya hari itu,
tentang kesalnya dikata-katai nama bapak. Entah apa lagi isinya. Yang saya
ingat betul, buku catatan harian itu sangat istimewa karena merupakan oleh-oleh
Mama dari Jepang. Lukisan seorang perempuan berkimono dan berkulit pucat
menghiasi sampulnya. Dasar anak kecil, belum mengerti cara menyimpan buku
harian. Saya geletakkan saja dia di meja belajar, sehingga Mama bebas membaca
isinya pada suatu hari. Sejak itu, saya malas mengisinya lagi.
"School sucks!"
"Hooray, I got an A on my paper about The Scarlet
Letter!"
Lalu di halaman berikutnya adalah sketsa idola saya waktu
itu, Trent Reznor.
Ini adalah beberapa halaman dalam buku jurnal saat remaja,
semasa dengan yang saya ceritakan di sini. Sengaja saya membuatnya terbuka,
bebas dibaca siapa saja, karena saya sedang malas menyimpan buku rahasia.
Lagipula, saya sangat menyukai fisik buku itu, jadi saya ingin membawanya ke
mana-mana. Terbuat dari kertas daur ulang, buku itu berwarna kecokelatan,
dengan sampul bergambar matahari keemasan. Jilidnya spiral, lembaran isinya
kertas tebal berbercak-bercak. Harganya lumayan, $11. Padahal uang saku saya
waktu itu hanya $25 per bulan.




