Solo trip, alias
traveling sendirian, bukan untuk semua orang. Sejak dua dekade yang lalu saya sering dengar orang bilang bahwa
solo trip bikin kita lebih mengenal diri sendiri, lebih terhubung ke lingkungan dan orang-orang sekitar, dan sebagainya. Ya mungkin benar untuk sebagian orang, tapi buat saya,
solo traveling itu sepi, saya nggak suka. Sebagai
self-proclaimed ambivert yang condong ke
extrovert, perjalanan seorang diri cenderung membuat saya sedih, kesepian, dan nggak seru karena nggak ada orang sefrekuensi yang diajak ngobrol dan ketawa bareng. Barulah belum lama ini, setelah mengalami beberapa kali
solo trip, saya bisa menikmatinya. Yaitu, waktu ke Firenze (Florence), Italia.
Waktu itu, di bulan April tahun 2024, saya harus ke Milan dalam rangka pekerjaan. Mengingat Italia sudah lama masuk dalam bucket list, rugi dong kalau nggak perpanjang barang beberapa hari; nggak bisa extend lama karena pekerjaan sudah menanti di Jakarta. Masalahnya, nggak ada teman yang bisa ikut waktu itu. Baiklah, terpaksa saya solo trip. Destinasi extend pun saya pilih yang cukup dekat, hanya 2-3 jam naik kereta dari Milan, karena di hari terakhir harus kembali lagi ke Milan untuk naik pesawat ke Jakarta.
 |
| Latar belakang: Ponte Vecchio (jembatan tua) dan Sungai Arno |