Showing posts with label Travel Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Travel Indonesia. Show all posts

Dec 30, 2023

Mengintip Masjid Tubaba Lampung

Lahir dan besar di Lampung, saya merasa familier dengan selera arsitektur di sana. Secara umum, menurut saya cukup konvensional. Sejak tahun 1990-an, banyak bangunan yang ditambahkan elemen dekoratif berwarna-warni dengan mengambil bentuk-bentuk ragam hias Lampung, tapi nggak serasi dengan desain bangunannya. Makanya saya kaget saat, di akhir tahun 2019, mengetahui bahwa ada masjid unik di Lampung dengan desain semodern, sekontemporer, dan sebrutalis Masjid Tubaba, hasil rancangan arsitek Andra Matin. Namanya Masjid As Shobur, tapi lebih dikenal sebagai Masjid Tubaba karena lokasinya di Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba). 



Aug 28, 2022

Hotel di Nusa Dua yang Cocok Untuk Keluarga

Ada banyak hotel di Nusa Dua Bali, tapi belum tentu semuanya cocok untuk semua anggota keluarga yang liburan bareng. Belum lama ini, saya berkesempatan menginap di Renaissance Bali Nusa Dua Resort dalam rangka kerja. Tapi yang langsung terpikir adalah hotel ini bakal saya rekomendasikan banget untuk kamu yang suka berlibur dengan keluarga. Apa saja alasannya?  

1.     Desainnya seru!

Lobi Reinassance, hotel di Nusa Dua

Jun 29, 2022

LIBURAN PERTAMA SEJAK PANDEMI: KE BALI


Bali itu menyenangkan, walau bukan destinasi yang saya gila-gilai. Tapi ketika Diyan ngajak saya nyusul dia ke sana setelah proyek video mappingnya selesai, saya semangat juga untuk pergi karena sudah lama banget nggak liburan keluar kota! Malah, saya packing sejak H-seminggu! 

 

Kalau biasanya Diyan bikin itinerary, kali ini kami hanya merencanakan ke beberapa tempat, lalu sisanya improvisasi. Kenyataannya, liburan kami cukup banyak diselingi pekerjaan. Beberapa rencana non-ambisius terpaksa batal karena tiba-tiba harus buka laptop, kirim email, revisi script, nulis caption, dan kadang ketiduran. 

 

Oke, ini dia tempat-tempat yang kami datangi dan inapi selama 7 hari di Bali: 


 

Feb 23, 2022

Liyangan, A Buried Ancient City near Temanggung, Central Java

(Originally written for my other blog indohoy.com which exists no more, 2016)



 

I was riding in a cab in the midst of Jakarta skyscraper jungle and suddenly a question popped up in my mind. “What if one day Jakarta becomes a buried city? How long would it take to dig the dirt and uncover all the buildings?” This thought didn’t come out of nowhere. I was looking up the buildings after posting a photo on Instagram from my recent visit to Liyangan, a buried ancient city located in Central Java.

 

Liyangan, or sometimes spelled Liangan, is barely known by Indonesians. I first heard about it only a few months before our trip, and decided to join the tour because it was going to be guided by an archeologist, Sugeng Riyanto. Pak Sugeng, who is also the head of the Liyangan excavation project, explained so many things about the site, gathered since the project started in 2008. Until November 2016, when we visited, they had excavated a land 3 hectares wide and 7 meters deep. According to Pak Sugeng that is a fast progress. “We’ve got much help from the sand miners who first found the ruins and then helped digging along the way,” he said. 

Mar 27, 2021

Trekking di Tahura Juanda, Bandung

 




Selama bertahun-tahun tinggal di Bandung waktu masih SMA dan kuliah, cuma pernah satu atau dua kali saya ke Taman Hutan Raya Juanda (Tahura).  Yang pertama, kalau nggak salah, waktu main ke salah satu curug (air terjun) di sana dengan teman-teman bimbel Seni Rupa. Yang kedua, waktu ngumpulin bahan untuk tugas kuliah bikin brosur THR Juanda. Padahal dulu saya cukup lama kost di Jl. Tubagus Ismail Depan, nggak jauhlah dari sana, kurang dari 4 km jaraknya.  Andai dulu saya sudah suka trekking, enak banget, bisa sering ke Tahura untuk menyusuri hutannya dan main ke curug-curugnya, atau sekadar duduk-duduk sambil gambar kek, main ludo kek, ngapain kek.

Nah, kemarin saya senang banget karena ada kesempatan ke Tahura untuk trekking santai. Ini pertama kalinya saya keluar dari Jabodetabek sejak pandemi. Awalnya, saya dan Diyan mau mengantarkan Mama berkunjung ke rumah Tante di Bandung. Tapi karena satu dan lain hal, rencana Mama itu batal. Karena saya dan Diyan sudah semangat banget mau pergi, kami putuskan untuk tetap ke Bandung berdua saja.

Kondisi dan Rute Trekking


Kami sampai di Tahura sekitar jam 9.30 WIB. Mulai trekking dari jam 9.40 sampai jam 12.00. Sebenarnya bisa aja lanjut lagi karena ada banyak rute di dalam Tahura. Tapi karena sudah ada rencana lain dan kami nggak berniat menginap di Bandung, maka kami hanya jalan melewati Gua Jepang, Gua Belanda, jembatan gantung, penangkaran rusa, dan terakhir mencari Curug Koleang namun nggak berhasil melihat curugnya karena ketutupan dedaunan rindang. Yang terakhir agak konyol memang, tapi ya sudahlah, lagi nggak niat-niat amat mau basah-basahan juga. 

Jan 26, 2019

4D3N Lasem Itinerary



Di artikel sebelum ini saya sudah cerita tentang tempat-tempat yang saya kunjungi serta sketsa-sketsa yang saya gambar di Lasem. Karena udah ada beberapa teman yang nanya itinerarynya, kali ini saya bagi di sini juga deh.

Tapi ingat, ya. Ini itinerary berdasarkan perjalanan saya, yang sebagian waktunya digunakan untuk sketching. Jadi, kegiatannya nggak padat dan banyak tempat wisata yang nggak saya kunjungi. Kalau kamu nggak suka sketching, bisa juga contek aja tempat-tempatnya.

DAY 1

Pagi: 
Naik pesawat Jakarta-Semarang.

Naik bus Jaya Utama AC dari Semarang (nunggu bus di depan pos polisi sebelah Rumah Sakit Islam Sultan Agung). Bus ini jurusan Surabaya, turun di Lasem (pertigaan besar). Perjalanan sekitar 3 jam. Tarif Rp40.000/orang. Kalau yang non-AC Rp25.000.

Nov 30, 2018

Lasem, Destinasi Travel Sketching dan Wisata Pintu




Bisa dibilang, Lasem adalah wisata pintu. Pintu-pintu kuno berwarna-warni di antara tembok-tembok tinggi yang menghiasi kota kecil di Pantura ini sangat mengundang wisatawan untuk menjadikannya objek foto. Di balik pintu-pintu itu terdapat rumah-rumah tua, rumah-rumah yang sudah direnovasi, rumah-rumah yang sudah beralih fungsi menjadi tempat bisnis, dan berbagai kisah kehidupan warga dari masa imigran Tiongkok baru tiba ke Lasem, melewati masa penjajahan Belanda, hingga kini.

Feb 21, 2018

Suatu Hari di Pasar Baru



Sudah lama rasanya nggak sketching bangunan langsung di depan bangunannya. Maka kemarin pagi saya putuskan untuk pergi ke Pasar Baru, khusus buat sketching. Dan kenapa Pasar Baru? Karena bosan Kota Tua dan nggak kepikir tempat lain lagi di Jakarta.

Maksud hati mau ke Pasar Baru (aka Passer Baroe) naik bus TransJakarta (TJ) all the way, tapi ternyata rutenya muter-muter. Jadi saya naik bus TJ dari Rasuna Said ke Monas saja, lanjut dengan ojek.

(Setelah dipikir-pikir, sebenarnya baru bulan lalu di Jogja saya gegambaran di pinggir jalan begitu, dan bulan lalunya di Bangkok, dan bulan lalunya lagi di Ipoh. Hahahaa.. ternyata belum lama. Ya, berarti memang lagi pengen urban sketching aja.)

Feb 5, 2018

Berkenalan dengan Alam, Masyarakat, dan Kopi Wamena




Pesawat baling-baling yang kami tumpangi, Trigana Air, mendarat dengan agak geradakan di Bandar Udara Wamena, hari Rabu pagi minggu lalu. Saya tak bisa menahan senyum seraya memandangi pegunungan berlapiskan awan putih yang mengitari landasan pacu. Ini pertama kali saya ke Papua, dan belum pernah bermimpi akan ke Wamena hingga ada ajakan ke sana seminggu sebelum berangkat. Tak sabar untuk bermain-main ke kebun kopi Wamena. 

“Itu Sungai Baliem,” ujar Pak Lani yang duduk di sebelah saya, menunjuk pada badan air yang meliuk bagaikan ular gemuk. Lebar sekali sungainya. Pak Lani asli orang Wamena, penerbangan Jayapura-Wamena sudah hampir rutin baginya. “Itu salib besar sekali!” saya menunjuk pada sebuah konstruksi putih berbentuk salib yang mentereng di antara atap-atap rumah dan pepohonan. Saya mendapat info kemudian, bahwa pembangunan salib itu memakan biaya puluhan miliar.

Dec 21, 2017

Sketching on A Road Trip Through Java


Last month I got a chance to go on a road trip, on behalf of Indohoy.com, with the Kompas Klasika team. Sponsored by Honda, we went from Jakarta to Gunung Parang (Purwakarta, Central Java), Dieng Plateau (Central Java), Candirejo (Magelang, Central Java), Brumbun (Madiun), Watu Karang (Pacitan, East Java), and lastly Yogyakarta. There were a few destinations that we had to skip due to the impossible weather: Kuta village in West Java and Nglanggeran in Yogyakarta. But, it ain’t road trip if there’s no surprises along the way.

Our schedule was pretty tight. We had to squeeze all that and the way back to Jakarta (I forgot how many kilometers in total) in only 9 days. Still though, I squeezed in sketching as much as I could. I even tried to sketch on a moving car because I was getting bored. Ha.



Aug 21, 2017

Sandboarding di Gumuk Pasir Parangkusumo yang Seru Banget!



Sudah berkali-kali ke DI Yogyakarta sejak kecil, saya belum juga bosan dengan provinsi ini. selalu ada saja hal baru bagi saya, yang menarik untuk dicoba, dilihat, atau dicicipi. Di bulan Juli lalu, saya dan Diyan ke Yogyakarta dengan tujuan utama menghadiri resepsi pernikahan teman.

Tapi tentunya lebih banyak jalan-jalannya, dong!

Di sini saya akan cerita tentang salah satu saja aktivitas kami di Yogyakarta waktu itu.

***

Dimulai dengan niat berangkat jam 5 pagi, kami molor jadi berangkat jam 5.10. Lumayanlah, ya, cuma telat 10 menit. Untuk standar Indonesia, itu nggak telat!

Jadi, ngapain berangkat pagi-pagi amat?

MAU MAIN SANDBOARDING DI GUMUK PASIR PARANGKUSUMO!

Horeee!

Kegiatan ini sudah beken mungkin sejak 1-2 tahun yang lalu. Beberapa teman saya juga sudah mencobanya. Akhirnya saya pun punya kesempatan mencoba!

May 23, 2017

Hobi Main di Pantai

Berjemur di pantai, siapa takut?


Beberapa minggu lalu saya baru saja pulang dari Sumba. Seminggu di sana, main ke berbagai pantai, mengingatkan lagi betapa sukanya saya berenang dan leyeh-leyeh di pantai. Nggak peduli kulit akan menggelap dan ada tankini line di badan, yang penting cibang-cibung dan terayun-ayun ombak kecil. Sebelum itu, sudah 4 bulan saya nggak menyentuh air laut. Pantas saja kangen betul. Jadi ingat masa-masa dulu hampir setiap bulan saya main ke laut.

Mumpung lagi membahas pantai, saya mau sekalian bernostalgia tentang pantai-pantai favorit saya. Berikut ini 5 diantaranya, tanpa urutan tertentu.

5 pantai favorit saya di Indonesia:

•      Pantai Mandorak, Sumba

Waktu mobil diparkir di pinggir tebing, saya hanya melihat tebing karang dan air laut yang berbatas horizon. Biasa saja, batin saya. Tapi begitu jalan lebih jauh, barulah saya melihat pantai putih bersih, bersembunyi di teluk karang dengan warna air yang meneduhkan mata. Waktu yang sempit diberikan oleh trip organizer, hanya cukup untuk berfoto-foto, otomatis langsung saya dan teman-teman langgar demi berenang di air gradasi hijau, toska, ke biru ini. Hati dan mata sama-sama senang!

Feb 23, 2017

Yang Membuat Pantai Sekotong Istimewa

Bagi saya, ulang tahun adalah hari yang penting. Mungkin karena keluarga saya terbiasa merayakan ulang tahun. Nggak harus dengan pesta meriah, minimal dengan ucapan selamat, dan kalau bisa saling bertemu, pasti ada cium pipi dan peluk. Jadi, sejak pacaran (dan kini sudah menikah) dengan Diyan, tiap ulang tahun saya ingin ada trip berdua, kalau memungkinkan. Pernah kami ke hanya ke Bogor pulang pergi naik kereta di hari ulang tahun saya. Pernah juga saya terpaksa pergi sendiri ke Gili Gede karena Diyan nggak bisa cuti. Yang paling berkesan sejauh ini adalah waktu kami berlibur di Sekotong tahun lalu.

Senja di Pantai Sekotong


Sekotong berlokasi di Lombok Barat, sebuah area pesisir yang masih agak sepi. Masih banyak yang bertanya “Sekotong itu di mana?”, dan di malam hari pun jalanan maupun pantainya cukup gelap karena nggak ramai penduduknya. Tapi karena sudah ada jalan aspal yang menyusuri pantai, cukup riuh juga bunyi kendaraan bermotor lalu lalang.

Penginapan kami, Villa Yukie, berdiri menghadap pantai Sekotong. Tiga malam kami menginap di sana, hanya di malam terakhir ada tamu selain kami. Mungkin waktu itu masih low season, di bulan Maret. Ada beberapa penginapan lain yang sederetan dengan Villa Yukie. Salah satunya memiliki restoran yang jadi tempat kami makan setiap malam karena dapur Villa Yukie sedang tidak aktif. Malam hari terasa lebih panjang karena nggak ada yang bisa dilakukan selain ngobrol, bermalas-malasan di hammock, atau buka medsos dengan koneksi internet yang tersendat. Suara debur ombak bersahut-sahutan dengan deru mesin kendaraan di jalan raya.

Pagi hari lebih menggembirakan di sana. Diyan, yang biasanya susah betul bangun pagi, kalau liburan malah bangun sebelum subuh. Apalagi waktu itu kami ingin menikmati sunrise Sekotong.

Feb 16, 2017

Ikut Walking Tour, Yuk!

Lebih cepat, lebih baik. Makin modern zaman, jargon ini makin laku. Ya jasa pengiriman barang, ya koneksi internet, sampai makanan, yang menjanjikan kecepatan lebih akan makin laris. Saya pun termasuk orang yang suka apa-apa lebih cepat, termasuk cepat lapar (eh), karena dengan cepat saya jadi bisa melakukan hal lebih banyak. Tapi ada satu hal yang saya sadari bahwa lebih cepat nggak berarti lebih baik, yaitu mengenal suatu kota. Daripada ngebut naik mobil, saya merasa bisa lebih detail memerhatikan kota dengan berjalan kaki.

Walking tour, bisa blusukan ke mana-mana


Adalah Gelar, trip and cultural event organizer, yang pertama kali mengenalkan walking tour kepada saya. Waktu itu hari Sincia di tahun 2014, saya dan Mumun diajak ikut walking tour mereka di area Glodok. Nara sumbernya seorang warga Glodok (yang saya lupa namanya), berestafet dengan sejarahwan JJ Rizal. Seru sekali cerita mereka, suka duka seputar kehidupan masyarakat Glodok dan perkembangan kawasan tersebut. Banyak tempat di sana yang mungkin tak akan pernah saya ketahui keberadaannya, apalagi sejarahnya, jika bukan karena ikut berjalan kaki sambil mendengarkan cerita mereka. Salah satunya tentang rumah Candra Naya, yang dulu didiami oleh Kapiten Khouw Kim An, hingga kini bertahan sendiri di tengah-tengah gedung modern.

Feb 7, 2017

Makanan Lokal VS Makanan Favorit



Setiap traveling, saya selalu berusaha mencoba makanan lokal, terutama jika itu tempat baru bagi saya. Kadang gagal, alias saya nggak suka makanannya, kadang sukses alias nagih dan terbayang-bayang terus sampai saya balik lagi ke Jakarta. Kadang dulu suka, pas balik lagi ke tempat itu ternyata saya sudah berubah selera.

Beberapa kali saya makan gudeg di macam-macam tempat di Yogyakarta, dan saya suka banget. Tapi dalam kunjungan ke Yogyakarta akhir tahun lalu, gudeg yang saya makan di Wijilan rasanya terlalu manis.

Jan 4, 2017

LOMBOK & SUMBAWA, TRIP TERAKHIR DI TAHUN 2016

Di cerita sebelumnya, saya sempat bilang bahwa ada kemungkinan saya akan ke Lasem di bulan Desember ini. Ternyata, destinasi berubah menjadi Lombok dan Sumbawa. Agak sedih karena batal ke Lasem, tapi senang juga karena saya belum pernah ke Sumbawa, dan Lombok pun selalu terdengar menyenangkan. Omong-omong, kenapa destinasi bisa berubah drastis begitu? Jadi, ini sebenarnya trip pekerjaan yang disponsori oleh suatu online marketplace. Mereka ingin membuat video perjalanan dengan traveler/travel blogger sungguhan, dan entah kenapa mereka khilaf, terpilihlah saya mewakili Indohoy.com bersama Vindhya dari Ibupenyu trip organizer. Hore!!!

Videonya sendiri masih dalam tahap editing, jadi saya belum mau membocorkan mereknya. Namun, tempat-tempat yang kami datangi terlalu cakep untuk nggak saya pamerkan di sini!

(Update: Videonya udah jadi, nih! Silakan klik di sini )

Tertiup angin di Pulau Kenawa, Sumbawa Barat


Jalan-jalan sebagai talent (istilah yang biasa digunakan orang video production untuk mereka yang di-shoot, baik artis betulan, figuran, ataupun orang biasa yang profilnya yang diangkat) berbeda banget dengan pengalaman jalan-jalan saya biasanya. Sebagai talent, penampilan harus diperhatikan dari pakaian, riasan wajah, sampai ke detail aksesorisnya. Untungnya ada Mishella, wardrobe stylist merangkap make-up artist yang memikirkan semua itu. Sebagian pakaian dan aksesoris memang milik saya, tapi dia yang mengatur semuanya. Koper dan ransel (ya, saya bawa dua-duanya, saking banyak pakaian yang harus dibawa!) ada yang mengurus, mulai dari check-in bagasi sampai mengantarkannya ke kamar hotel. Begitu juga makanan dan itinerary, saya tak harus pusing memilih tempat.

Sedangkan dari segi kepuasan eksplorasi, terus terang saya nggak puas. Namun saya maklumi karena ini, kan, perjalanan dalam rangka shooting video. Tim kreatif dan produksi sudah menentukan apa saja yang mau di-shoot, saya tinggal ikut. Kalau mau mengeksplorasi lebih banyak, harus saya lakukan di lain waktu, saat saya bepergian dengan biaya sendiri.

Dec 7, 2016

2016: Tahun yang Penuh Naik Turun dan Mula dari Sketch Journal

Kalimat yang sering dilontarkan di bulan ke-12 tiap tahun adalah, “Gila! Udah mau tahun baru aja! Nggak terasa!” Apa boleh buat, saya pun sering mengatakan itu karena kalau sudah bulan Desember rasanya setahun ini lewat begitu saja. Padahal kalau diingat-ingat lagi, cukup banyak hal yang saya alami, khususnya di tahun 2016 ini. Mulai dari trip ke berbagai destinasi, mencicipi yang namanya ngantor lagi, hingga memulai bisnis kecil-kecilan. Lewat tulisan ini saya mau bernostalgia sedikit, sambil mengingat-ingat sudah seproduktif apa saya selama setahun.




Trip Dalam dan Luar Negeri


Di tahun 2016 ini saya terbilang sedikit jalan-jalan, setidaknya dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Di kuartal pertama ada trip yangdisponsori Kemenpar ke Singkawang (Kalbar), trip ulang tahun ke Lombok, dan trip ke Singapura untuk nonton konser Madonna.

Menjelang konser, saya sedang terancam kehilangan projek langganan, yang berarti terancam kehilangan pendapatan. Atas nama nge-fans sejak kecil, saya bela-belain ke Singapura. Hasilnya, selain puas akhirnya nonton Madonna live, saya juga senang karena melakukan hal-hal baru di sana, seperti menikmatimatahari terbenam di Henderson Waves.

Sep 5, 2016

Sketching Bareng di International Semarang Sketch Walk 2016



Jenis perjalanan yang paling saya sukai akhir-akhir ini adalah yang memungkinkan saya untuk mensketsa apapun yang menarik sepanjang perjalanan. Lebih asyik lagi kalau memang berupa sketch trip, yaitu perjalanan yang dikhususkan untuk mensketsa. Contohnya, waktu saya mengikuti acara Urban Sketchers Symposium di Singapura di tahun 2015, seperti yang diceritakan di blog Sketchwalkers dan di Steller story saya yang ini.

Sekitar seminggu yang lalu, saya berkesempatan lagi untuk sketch trip. Nggak jauh-jauh, di Semarang saja. Ada hajatan #ISSW2016 alias International Semarang Sketch Walk 2016 selama 3 hari (26-28 Agustus 2016), tapi berhubung saya belum bisa cuti, jadi cuma ikut di hari Sabtu dan Minggu.

Isi acaranya ada sketch walk dan workshop. Sketch walk itu biasanya peserta jalan kaki ke lokasi-lokasi sketsa yang ditentukan panitia, tapi di ISSW kali ini ada juga lokasi sketch walk yang lumayan jauh dan ditempuh dengan bus. 

Jul 13, 2016

Liburan di Bandung Untuk Bersantai Belaka

Pemandangan dari Puncak Bintang, Bukit Moko.


Bandung di masa libur selalu mengerikan. Penuh turis dan jalanan macet. Saya dan Diyan selalu menghindari Bandung di masa liburan, hingga akhirnya minggu lalu, ketika justru kami memutuskan untuk berlibur Lebaran di Bandung. Ceritanya, kami ingin liburan di luar Jakarta sebelum saya melepas status freelancer dan mulai kembali menjadi pegawai Senin-Jumat. Kami memilih Bandung karena ongkos ke sana relatif murah dan ada banyak pilihan Airbnb yang menarik. Pilihan Airbnb ini penting, karena kami punya banyak travel credit yang bisa digunakan.

Kami memilih Bright & Open Space sebagai 'rumah' kami selama tiga malam. Kami suka desain rumahnya yang unik dan keren, suasananya terlihat nyaman, dan keluarga pemilik rumah juga tinggal di situ. Lucunya, setelah memesan kamar, kami baru tahu bahwa pemilik rumah ini ternyata si Adi, teman kampus saya! Jadi rasanya semakin menyenangkan, seperti berlibur di rumah teman.

Update (Sept. 2017): 
Pemilik rumah baru saja punya bayi, jadi servis Airbnb-nya ditutup dulu, entah sampai kapan. Tapi masih banyak rumah keren lainnya di Bandung yang bisa jadi pilihan di Airbnb. 


Menangkap pernak-pernik dan cahaya di ruang tengah. Posted on IG.


Perjalanan Jakarta - Bandung di hari Lebaran kedua tidak seburuk yang kami bayangkan. Dalam empat jam kami tiba di pool X-Trans Cihampelas, lanjut naik taksi ke Airbnb di daerah Cimenyan, sedikit di luar batas kotamadya.

Rumah Adi merupakan salah satu hasil karya desain Dendy dari UNKL dengan tambahan ide-ide dari Adi dan Debbie, istrinya, yang sama-sama kreatif. Rumah berlangit-langit tinggi ini tampak makin menjulang karena berdiri di atas tanah yang juga sudah tinggi di hadapan jalan turunan. Bagian yang paling menarik perhatian adalah jembatan (atau lebih tepat disebut dermaga, ya?) besi di depan rumah, yang kerap digunakan Adi buat hobi astrofotografi-nya. Di jembatan ini saya dan Diyan mengamati matahari terbit di keesokan harinya, sambil duduk-duduk menikmati pagi hari di Bandung yang – sayangnya - sedang tidak begitu dingin.

Oct 28, 2014

Betung Kerihun National Park




10 days of Mumun's and my trip to Betung Kerihun National Park in West Kalimantan have passed. It was definitely another new and challenging experience. We went into the tropical jungle, the lungs of the world, met so many nice and helpful people, and I proved my expectations about Dayak people to be inaccurate.

We're thankful to G+ who have sponsored our trip, along other travelers who chose different destinations of Indonesia. I think it's a great campaign to show people (mostly Indonesians) the variety and awesomeness (along with not so great reality) of this huge archipelago. A lot of us chose the coastal destinations, I'm glad that I chose the forest.