-->
![]() |
| Menara Eiffel sore dan malam hari. |
Saya nggak berharap macam-macam terhadap Paris. Malah,
tadinya kota ini nggak masuk itinerary kami karena sudah teramat sering melihat
foto-fotonya di berbagai media. Yang membuat kami memilih Paris adalah karena
kami dapat tiket Etihad dengan harga oke ke sana, sebagai gerbang perjalanan
Eropa kami kali ini. Namun, ekspektasi saya salah. Ternyata ibukota Prancis ini
mampu membuat kami berdecak kagum hampir di segala sudutnya!
KESAN PERTAMA TENTANG KOTA PARIS
Di penghujung musim semi yang masih saja dingin, Paris
menyambut kedatangan kami dengan gedung-gedungnya yang cantik. Bentuk atapnya
khas seperti trapesium, yang disebut ‘Mansard roof’. Ukiran detail menghiasi
fasad, dari yang berbentuk flora hingga Medusa dan para malaikat kecil. Pagar
balkon tak kalah detailnya, mempercantik gedung-gedung yang usianya sudah lebih
dari seabad. Dari bandara kami turun di stasiun metro Sully-Morland, lalu jalan
kaki 400 meter ke Airbnb. Kamar yang kami sewa berada di unit apartemen di
lantai 4 di gedung sudah berdiri sejak tahun 1905 dan tidak ada lift. Lumayan
juga ngangkat koper sampai ke lantai 4 - dan nomor lantai dimulai dari G, bukan
1, jadi sebenarnya kami naik ke lantai 5!
