Solo trip, alias
traveling sendirian, bukan untuk semua orang. Sejak dua dekade yang lalu saya sering dengar orang bilang bahwa
solo trip bikin kita lebih mengenal diri sendiri, lebih terhubung ke lingkungan dan orang-orang sekitar, dan sebagainya. Ya mungkin benar untuk sebagian orang, tapi buat saya,
solo traveling itu sepi, saya nggak suka. Sebagai
self-proclaimed ambivert yang condong ke
extrovert, perjalanan seorang diri cenderung membuat saya sedih, kesepian, dan nggak seru karena nggak ada orang sefrekuensi yang diajak ngobrol dan ketawa bareng. Barulah belum lama ini, setelah mengalami beberapa kali
solo trip, saya bisa menikmatinya. Yaitu, waktu ke Firenze (Florence), Italia.
Waktu itu, di bulan April tahun 2024, saya harus ke Milan dalam rangka pekerjaan. Mengingat Italia sudah lama masuk dalam bucket list, rugi dong kalau nggak perpanjang barang beberapa hari; nggak bisa extend lama karena pekerjaan sudah menanti di Jakarta. Masalahnya, nggak ada teman yang bisa ikut waktu itu. Baiklah, terpaksa saya solo trip. Destinasi extend pun saya pilih yang cukup dekat, hanya 2-3 jam naik kereta dari Milan, karena di hari terakhir harus kembali lagi ke Milan untuk naik pesawat ke Jakarta.
 |
| Latar belakang: Ponte Vecchio (jembatan tua) dan Sungai Arno |
Di Firenze, saya menginap di Airbnb berupa apartemen di gedung tua dan gelap, sekitar 1 km dari pusat kota yang ramai turis. Katanya sih, bangunan ini dibangun di tahun 1970an, tapi rasanya kayak udah dari 1790an. Selama 3 hari di sana, saya ke mana-mana jalan kaki karena malas mempelajari rute dan sistem pembayaran trem atau bus. Toh, memang udah sengaja bawa sepatu yang nyaman untuk jalan kaki dan ke mana-mana relatif dekat. Satu hal yang cukup bikin repot adalah cukup sering hujan turun selama 3 hari itu, dari sekadar gerimis mengundang sampai hujan deras yang memaksa saya beli payung seharga 5 euro (padahal di rumah udah punya 3-4 payung lipat; nyesel nggak bawa sebiji pun).
 |
| Trem modern di kota yang sarat akan karya Renaissance |
 |
| Gedung apartemen Airbnb saya (tengah) |
Walaupun kondisinya nggak sempurna, ternyata saya menikmati solo trip di Firenze ini. Setelah saya analisis sendiri, kira-kira beberapa hal berikut ini yang membuat saya menikmatinya:
- Agenda saya sederhana: mengunjungi beberapa museum dan katedral, jalan-jalan di kota tua, kalau ada yang menarik dan terjangkau ya belanja, makan pasta, sketching sedikit, dan lari pagi. Kebebasan 100%, tidak perlu berdiskusi apalagi berkompromi soal tujuan dan aktivitas. Semua tergantung pada ketertarikan, mood, dan waktu yang saya punya.
- Ke mana-mana jalan kaki; saya nggak usah pusing mempelajari sistem transportasi baru lagi, tinggal lihat Google Maps. Saya hanya explore sebagian kecil kota Firenze, tapi itupun rasanya nggak cukup dalam 3 hari karena banyak juga waktu kepake untuk antre masuk museum dan melihat semua isinya.
- Walaupun cuti, tetap ada beberapa pekerjaan kantor yang harus saya kerjakan tiap pagi sebelum mulai jalan-jalan. Kalau jalan sama teman yang full holiday mode, kan bisa-bisa urusan kerjaan saya ini mengganggu suasana.
- Sightseeing dan melihat-lihat karya seni memang lebih seru dilakukan dengan teman yang asik buat diskusi. Tapi ternyata masih oke juga untuk dilakukan sendirian.
 |
| Ada 1 lagi gak enaknya solo trip: foto diri mesti selfie >.< (lokasi: di atas kubah katedral) |
Firenze dikenal sebagai tempat kelahiran Renaissance. Dari yang saya lihat, kota ini penuh dengan bangunan tua yang didominasi gaya Romanesque dan Gothic. Di suatu persimpangan saat berjalan menuju Ponte Vecchio, saya menoleh ke kiri dan tampaklah Duomo Santa Maria del Fiore atau Florence Cathedral yang ikonik itu. Nggak akan terlewatkan karena selain ukurannya yang masif, fasad gereja ini berwarna dasar putih dengan aksen geometris pink dan kehijauan, berbeda dengan bangunan-bangunan di sekelilingnya yang mayoritas bernuansa krem, ochre, dan abu-abu. Kubahnya yang merah juga menambah daya tarik gereja yang mulai dibangun pada tahun 1296 ini.
 |
Tadaaa! Florence Cathedral, ladies and gentlemen!
|
 |
| Detail fasadnya dari dekat. Just wow! |
Saya naik ke kubah yang tingginya 110 meter itu, melewati 460 anak tangga di ruangan sempit (tidak disarankan untuk kamu yang claustrophobic maupun yang punya cedera lutut), tapi sayangnya nggak sempat eksplor interior gerejanya. Namun, waktu naik ke kubah, saya bisa melihat mural di langit-langit dari cukup dekat.
 |
| Tangga menuju kubah |
 |
| Patung-patung para uskup dari Firenze dari abad ke-16. |
 |
Fresco berjudul "The Last Judgement" oleh Giorgio Vasari, dilanjutkan oleh Federico Zuccari. Diselesaikan dalam waktu 7 tahun, mural ini luasnya 3.600 m2. |
 |
Balkon di luar kubah. Gak habis pikir, jaman dulu udah bisa bikin bangunan dengan detail sebegitunya di ketinggian sekitar 100 meter! |
 |
Meminjam foto dari Wikipedia untuk menunjukkan posisi saya berdiri di luar kubah. Setinggi itu! No wonder it was so windy! |
Situs ikonik lainnya: Ponte Vecchio, yang berarti Jembatan Tua, merupakan jembatan tertua yang melintasi Sungai Arno. Namun Ponte Vecchio yang bertahan sampai sekarang adalah versi renovasi sejak tahun 1345. Ia menjadi semakin penting karena merupakan satu-satunya jembatan yang selamat dari Perang Dunia II. Dulu di jembatan itu terdapat toko-toko daging, kulit, dan hasil bumi, sedangkan sekarang didominasi oleh toko perhiasan.
 |
Ponte Vecchio dilihat dari jembatan Santa Trinita
|
 |
| Di hari terakhir di Firenze, saya jogging melewati jembatan ini dan sekitarnya. |
 |
| Sketching sebentar dan tangan hampir membeku karena dingin. Diwarnai nanti saja di Airbnb. |
Ngomong-ngomong soal kulit, awalnya saya heran, kenapa di pasar banyak banget kios produk kulit, begitu juga di pertokoan pinggir Sungai Arno. Pas saya google, barulah tahu bahwa Firenze memang terkenal sebagai penghasil kulit! Langsung saya tahu mesti beli oleh-oleh apa untuk ibu dan suami.
 |
| Ide oleh-oleh yang menarik, tinggal engrave aja inisial nama. Pengerjaannya pun cepat. |
 |
Toko tas kulit Roberta yang saya pilih secara acak, karena terlihat bagus aja. Ketika belanja saat hujan, mereka melapis tas belanja kertas dengan kantong plastik. Tas belanjanya seperti pakai jas hujan. A nice touch to the service! |
Masih di deretan tepi Sungai Arno, terdapat
Le Gallerie degli Uffizi alias Uffizi Gallery. Uffizi artinya perkantoran. Bangunan museum ini dulunya berfungsi sebagai kantor administrasi dan yudisial kota Firenze yang dikuasai oleh keluarga konglomerat Medici. Gedung berbentuk U ini mulai dijadikan museum sejak tahun 1769. Di plaza tengah gedung, patung-patung para maestro menghiasi pilar-pilarnya. Antrean mengular, banyak rombongan anak sekolah dan pengunjung umum walaupun waktu itu belum musim liburan.
 |
| Uffizi Gallery dilihat dari tengah plaza |
 |
| Pemandangan keluar dari salah satu jendela Uffizi Gallery. Lihat kan antrean panjang itu? |
 |
| Patung Leonardo da Vinci di salah satu pilar eksterior galeri |
Galeri ini memamerkan karya seni dari abad 13-18 dengan gaya Italian Renaissance yang mendominasi, sampai-sampai saya ‘mabok Reinassance’ rasanya. Bukan hanya karya yang dipamerkan, interiornya pun bikin ‘wow’ dengan langit-langit koridor yang dilukis.
 |
| Salah satu koridor dengan motif di langit-langit |
 |
Patung yang posenya menginspirasi pose Venus dalam lukisan "The Birth of Venus"
|
 |
| "The Birth of Venus" oleh seniman Sandro Botticelli dari abad ke-15 |
 |
| "Statue of Mercury" terbuat dari marmer Yunani. |
 |
Diptik "The Portrait of the Dukes of Urbino" oleh Piero della Francesca. Federico da Montefeltro (kanan) kehilangan mata kanannya, maka digambar dari sisi kiri. Istrinya, Batista Sforza (kiri) mewakili kecantikan pada masa itu (kulit pucat dan garis rambut mundur banget), menurut tour guide saya waktu itu. Lukisan ini juga menunjukkan kekayaan mereka sebagai penguasa wilaya Urbino.
|
 |
"Testa di Medusa" oleh Caravaggio, dilukis di perisai. Lukisan yang mengerikan ini dipajang di suatu ruangan dengan cat merah hati dan lebih gelap dari ruangan-ruangan lain, bersama lukisan-lukisan lain yang juga terasa gelap dan mengerikan dari warna dan tema. |
 |
| "David with Goliath's Head" oleh Guido Reni |
 |
| "The Sacrifice of Isaac" oleh Caravaggio. Inget Lebaran Haji. |
Setelah melihat langsung karya-karya ternama dari Caravaggio, Sandro Botticelli, dan lain-lain, saya lanjut ke
Galleria dell’Accademia di Firenze (Accademia Gallery) untuk melihat patung David karya Michelangelo. Patung yang sudah berusia setengah abad ini mewakili sosok ideal Reinassance: muda, atletis, dan kuat. Dipahat dari blok marmer, tinggi David hampir 4,5 meter.
David dirancang untuk diletakkan di atas Florence Cathedral, maka kalau diperhatikan ada proporsi yang kurang realistis seperti tangan kanan yang kebesaran, agar terlihat lebih jelas dari bawah. Namun sebelum repot-repot diletakkan di atas katedral, komite seniman yang meliputi Leonardo da Vinci dan Botticelli menyayangkan kalau patung seindah itu cumah dilihat dari jauh. Maka, diletakkanlah ia di Piazza della Signoria agar banyak orang yang bisa melihatnya dengan lebih jelas. Barulah di tahun 1873 David dipindahkan ke dalam galeri agar tidak rusak, dan dibuat replikanya untuk ditaro di Piazza.
 |
"The Statue of David", highlight utama di Accademia Gallery. Gila sih, saya melihat karya Michelangelo langsung dengan mata kepala sendiri! Some dreams do come true :)
|
 |
| Detail urat dan otot yang realis. |
 |
| Ruangan Gipsoteca Bartolini yang memajang berbagai patung karya Lorenzo Bartolini |
 |
| "Penitent Magdalene" oleh Luigi Pampaloni. |
 |
| "Tree of Life" oleh Pacino di Bonaguida, dari abad ke-14, berada di ruangan Florentine Gothic. |
Di galeri ini juga terdapat banyak sekali patung dan lukisan dari masa Reinassance lainnya. Selesai melihat-lihat, rasanya saya mabuk Reinassance tapi senang sekali! Selama di Firenze, tak henti-hentinya saya mengagumi kecakapan para seniman dan arsitek masa itu, apalagi di saat peralatan memahat, melukis, dan mural yang jauh kalah canggih dibandingkan sekarang, namun mereka bisa membuat karya-karya megah dan abadi!
 |
| Basilica di Santa Trinita, sebuah gereja di pusat kota Firenze. |
 |
Toko wine dengan relief cantik di atas pintu masuknya. Kok bisa sih, bangunan 'random' aja sebagus ini? |
 |
| Pertokoan yang saya lewati setelah menyeberangi Ponte Vecchio. |
 |
Gelato Badiani, gelato asal Firenze yang sudah cukup terkenal di Eropa (ada beberapa cabangnya di Inggris, Spanyol, dan Prancis). |
 |
Makan siang di trattoria dekat pasar. Suasananya cozy dengan musik jazz yang mengalun, apalagi di luar sedang mendung. Makanannya? Cukup enak bagi saya. |
 |
| Senja di Firenze. |
No comments:
Post a Comment